KH Abdurrozaq Sholeh Kenang Pertemuan Terakhir dan Kesabaran KH Fadlullah Malik
Saturday, 16 May 2026 | 18:47 WIB
Diambil dari Youtube Bahrul Ulum Studio
Dalam rangkaian isyhad ketujuh untuk almarhum almaghfurlah KH M. Fadlullah Malik yang digelar pada Jumat, 15 Mei 2026 di ndalem beliau sekaligus Pondok Pesantren Al-Maliki 1, sambutan kedua disampaikan oleh KH Abdurrozaq Sholeh.
Dalam sambutannya, Kiai Rozaq mengenang pertemuan-pertemuan terakhirnya dengan Gus Fadl sebelum wafat. Menurut beliau, ada banyak percakapan yang setelah dipikir kembali terasa seperti isyarat perpisahan.
Kiai Rozaq menceritakan bahwa sekitar dua minggu sebelum wafat, tepatnya pada hari Selasa, Gus Fadl datang berkunjung ke rumah beliau dengan diantar putranya, Agus Tajuddin Malik Fadlullah.
Dalam pertemuan tersebut, obrolan Gus Fadl terasa berbeda dari biasanya. Setelah selesai berbincang, Gus Fadl berpamitan untuk melanjutkan sowan kepada KH Hasib.
Seminggu kemudian, tepat pada Selasa berikutnya, Kiai Rozaq kembali bertemu dengan Gus Fadl dalam pengajian kitab Minhaj al-Qowim di Pondok Induk Bahrul Ulum. Saat itu, Gus Fadl masih mengisi pengajian seperti biasa.
“Biasane niku ten Pondok Induk nek dinten Seloso niku, pengajian kitab Minhaj al-Qowim bergiliran antara Kiai Fadl, kulo kale Gus Jabbar. (Biasanya di Pondok Induk setiap hari Selasa pengajian kitab Minhaj al-Qowim diisi secara bergiliran antara Kiai Fadl, saya, dan Gus Jabbar.)” tuturnya.
Namun dalam pertemuan tersebut, Kiai Rozaq merasa ada jawaban Gus Fadl yang terdengar berbeda dan membekas dalam ingatannya. Saat itu beliau sempat bertanya apakah Gus Fadl akan mengisi pengajian seperti biasa.
“Gus Fadl, ngaji ta? (Gus Fadl, jadi mengaji?)” tanya Kiai Rozaq.
Kemudian Gus Fadl menjawab dengan nada yang kini terasa sangat mendalam bagi beliau.
“Iyo Mas, mumpung sek iso ngaji. (Iya Mas, selagi masih bisa mengaji.)” tutur Kiai Rozaq menirukan jawaban Gus Fadl kala itu.
Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, tepat pada Ahad dini hari, Kiai Rozaq menerima telepon dari Gus Syifa’ Malik sekitar pukul setengah empat pagi. Menurutnya, waktu telepon yang tidak biasa itu langsung menimbulkan firasat bahwa telah terjadi sesuatu yang darurat.
Benar saja, Gus Syifa’ mengabarkan bahwa Gus Fadl telah wafat.
“Mas Fadl kapundut. (Mas Fadl telah dipanggil Allah SWT.)” ucap Kiai Rozaq menirukan suara Gus Syifa’.
Bagi Kiai Rozaq, pertemuan pada Selasa sebelumnya akhirnya menjadi pertemuan terakhirnya dengan Gus Fadl.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengenang kesabaran luar biasa Gus Fadl selama menghadapi sakit yang dideritanya bertahun-tahun. Menurut Kiai Rozaq, selama kurang lebih sembilan tahun menjalani sakit, Gus Fadl hampir tidak pernah mengeluh.
“Beliau ini termasuk orang yang betah ngerasakno lorone kurang lebih sembilan tahun lan mboten nate sambat. (Beliau termasuk orang yang kuat menahan sakit selama kurang lebih sembilan tahun dan tidak pernah mengeluh.)” ungkapnya.
Kiai Rozaq kemudian membagikan kisah yang menurutnya cukup unik menjelang wafatnya Gus Fadl. Dalam kondisi berbaring, Gus Fadl sempat mengangkat tangannya seperti ingin meraih sesuatu sambil mengucapkan kalimat yang membuat orang-orang di sekitarnya terdiam.
“Aku njumuk wawune Mbah Wahab. (Saya mengambil huruf waw-nya Mbah Wahab.)” tutur Kiai Rozaq menirukan ucapan Gus Fadl.
Kiai Rozaq menjelaskan bahwa “wawu” yang dimaksud merupakan salah satu huruf dalam kata haul (حَوْلٌ). Hal tersebut terasa istimewa karena wafatnya Gus Fadl bertepatan dengan rangkaian peringatan Haul ke-55 KH Abdul Wahab Hasbullah.
Kesaksian KH Abdurrozaq Sholeh menggambarkan sosok KH Fadlullah Malik sebagai pribadi yang istiqamah dalam mengajar hingga akhir hayat, sabar dalam menghadapi ujian sakit, dan tetap menjaga kedekatan spiritual dengan para masyayikh hingga detik-detik terakhir kehidupannya.