Home Berita Batsul Masail Kisah Inspiratif Sejarah Ruang Santri Tanya Jawab Tokoh Aswaja Dunia Islam Khutbah Amalan & Doa Ubudiyah Sambutan Pengasuh Makna Lambang Sejarah Pesantren Visi & Misi Pengasuh Struktur Jadwal Kegiatan Mars Bahrul Ulum Denah Opini Pendaftaran Santri Baru Cek Status Brosur Biaya Pendafataran Pengumuman Statistik Santri Login Foto Video Kontak
Sejarah

Lumpang Mbah Sechah (Bagian 1)

foto lumpang Mbah Sechah yang sekarang terletak di depan Komplek Sunan Kudus
foto lumpang Mbah Sechah yang sekarang terletak di depan Komplek Sunan Kudus

Bahrululum.id-Mbah Kiai Abdus Salam atau yang sering dipanggil Mbah Sechah adalah seorang kiai yang Alim, dan menguasai ilmu kanuragan. Selain itu Mbah sechah juga ahli dalam bidang pengobatan. Diceritakan, Mbah Sechah meramu obat-obat menggunakan alat beranama Lumpang, alat yang terbuat dari batu besar yang bagian tengahnya bolong,  alat tersebut sekarang masih dapat disaksikan di ponpes Bahrul ‘Ulum Induk.

 

Lumpang tersebut awalnya berasal dari daerah Gedang Njero, tepatnya di Komplek maqbaroh (pemakaman) KH Abdul  Wahab Chasbullah, karena memang lokasi tersebut dulunya adalah tempat tinggal Mbah Kiai Abdussalam. lalu, Kiai Wahib dan Kiai Najib melihat lumpang tersebut tergeletak dipinggir makam, akhirnya beliau berdua bermusyawarah. Selanjutnya lumpang itu dipindah dari makam Mbah Wahab ke lokasi pondok induk oleh beberapa santri atas perintah Kiai Wahib dan Kiai Najib.

 

Terdapat peristiwa menarik terkait penempatan Lumpang tersebut. Kiai Wahib (putra pertama Kiai Wahab Chasbullah)menghendaki lumpang tersebut diletakkan di depan kantor pondok Induk, sementara Kiai Najib adik Kiai Wahib cenderung menghendaki diletakkan di tengah-tengah pondok induk. Perdebatan berlangsung lama, para santri yang mengusung batu tersebut hanya terdiam melongo. Akhirnya disepakati oleh mereka berdua, bahwa lumpang tersebut ditempatkan di depan kantor pondok Induk. Lambat laun pondok semakin besar, dan berkembang batu tersebut dipindahkan ke depan Komplek Sunan Kudus.

 

Oleh: Febri, dan Zafri

Editor: Akhmad Zamzami