Syahadat: Bukan Sekadar Ucapan, Tapi "Kunci Utama" yang Wajib Ada
Pernah terpikir nggak, apa sih hal paling mendasar yang bikin seseorang disebut Muslim? Jawabannya bukan cuma soal status agama di KTP atau keturunan, tapi ada pada satu kalimat sakral yang kita sebut Dua Kalimat Syahadat. Ibarat sebuah rumah, syahadat ini adalah pintu utamanya. Tanpanya, kita nggak pernah benar-benar "masuk" ke dalam indahnya Islam.
Kenapa Harus Diucapkan?
Mungkin ada yang bertanya, "Kan yang penting hatinya percaya?" Betul, iman itu di hati, tapi syahadat adalah bentuk ikrar atau deklarasi resmi. Dalam kehidupan, syahadat ini punya dua fungsi utama tergantung siapa yang mengucapkannya.
Pertama, sebagai "Gerbang Masuk". Bagi orang-orang yang sebelumnya belum memeluk Islam (kafir) atau mereka yang sempat menjauh dan keluar dari agama (murtad), syahadat ini hukumnya wajib diucapkan seketika itu juga. Tidak boleh ditunda-tunda. Kenapa se-urgent itu? Karena ini adalah tiket keselamatan. Syahadat inilah yang menjadi pembebas seseorang dari konsekuensi terberat di akhirat nanti, yaitu kekekalan dalam siksa neraka. Begitu diucapkan, lembaran baru pun dimulai.
Kedua, sebagai "Syarat Sah" Ibadah. Kalau kita mengintip kitab-kitab fikih, kita bakal sering banget ketemu daftar "Syarat Sah" dalam setiap ibadah—entah itu shalat, puasa, atau zakat dan lain sebagainya. Nah, menariknya, di urutan paling atas syarat-syarat tersebut, pasti kita akan menemukan "Beragama Islam".
Ini menunjukkan bahwa status kita sebagai Muslim itu ibarat ID Card utama agar semua amal kita bisa "diterima" dan diganjar pahala. Tanpa pondasi Islam yang sah melalui syahadat, ibadah sebanyak apa pun tidak akan memiliki landasan yang kuat. Jadi, syahadat bukan cuma sekadar formalitas, tapi kunci aktivasi agar setiap keringat dan lelah kita dalam beribadah benar-benar tercatat di sisi-Nya.
Syahadat dalam Gerakan Shalat
Lalu gimana dengan kita yang sudah Muslim sejak lahir? Apakah kewajiban syahadat sudah selesai? Ternyata belum. Di sinilah letak uniknya rutinitas ibadah kita.
Bagi kita yang mengikuti pandangan Madzhab Syafi’i, mengucapkan syahadat bukan cuma sekali seumur hidup. Kita wajib mengucapkannya berkali-kali dalam sehari, tepatnya saat kita duduk Tahiyyat Akhir dalam shalat.
Dalam ilmu fikih, syahadat di posisi ini disebut sebagai Rukun Qauli (rukun yang berupa ucapan). Artinya, kalau lisan kita tidak mengucapkan syahadat dengan benar saat tahiyyat, shalat kita dianggap nggak sah. Jadi, syahadat ini semacam konfirmasi ulang komitmen kita kepada Tuhan dan Rasul-Nya setiap kali kita menghadap dalam shalat.
Melihat betapa pentingnya posisi syahadat ini, rasanya kita perlu lebih khusyuk lagi saat melafalkannya. Ia bukan sekadar hafalan di luar kepala, tapi sebuah sumpah setia yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Jadi, yuk lebih perhatian lagi dengan "ikrar" harian kita!
Oleh: Abdullah Machbubal-Kahfi