Home Berita Batsul Masail Kisah Inspiratif Sejarah Ruang Santri Tanya Jawab Tokoh Aswaja Dunia Islam Khutbah Amalan & Doa Ubudiyah Sambutan Pengasuh Makna Lambang Sejarah Pesantren Visi & Misi Pengasuh Struktur Jadwal Kegiatan Mars Bahrul Ulum Denah Opini Pendaftaran Santri Baru Cek Status Brosur Biaya Pendafataran Pengumuman Statistik Santri Login Foto Video Kontak
Sejarah

Majid Jami' Bahrul Ulum Tambakberas

Foto Masjid Jami' Tambakberas
Foto Masjid Jami' Tambakberas

BAHRULULUM.ID- Masjid Jami’Bahrul’Ulum TambakBeras mempunyai suatu ciri khas yang sangat menarik untuk dikaji oleh semua orang. Bentuk menara masjid ini antik dan klasik, serta modelnya yang tampak “sederhana” membuat Masjid Jami’ Bahrul ‘Ulum TambakBeras memancarkan aura dan energi tersendiri bagi para santri dan para spiritualis.


Masjid ini dibangun ketika pada masa Mbah Chasbullah (ayah dari Mbah Wahab).Pimpinan pembangunan ini dipercayakan kepada Mbah Abu Syakur yang merupakan putra dari Mbah Abdus Salam (Mbah Sechah). Mbah Chasbullah juga ikut mengukur luas bangunan dengan sebuah tali dadung (tali yang terbuat dari serat pohon yang sudah dikeringkan).


Tahun dimulainya pembangunan masjid ini diperkirakan sekitar tahun 1904 M. Masjid dan Menara dulunya masih terpisah. Sekitar tahun 1963, Mbah Wahab menyambung Masjid dan Menara tersebut dengan bangunan baru. Sehingga Masjid dan Menara menjadi satu bangunan yang dapat disaksikan oleh semua orang saat ini.


Menurut cerita KH.Abdul Nashir Fattah atau yang biasa dikenal Kiai Nashir, yang menjadi muazin pertama di Masjid Jami’ Bahrul ‘Ulum TambakBeras adalah Pak Burhan yang suaranya sangat jernih dan lembut. Apabila sudah waktunya adzan, Pak Burhan selalu naik ke puncak menara sambal membawa sebuah corong yang digunakan untuk pengeras suara adzan.


Saat mengumandangkan adzan, Pak Burhan tidak hanya menghadap ke satu arah saja, tetapi keliling ke empat penjuru. Ketika adzan selesai, Pak Burhan turun dari menara lantas berjalan menuju ke tempat pengimaman. Dengan suaranya yang jernih dan lembut beliau melanjutkan dengan membaca pujian-pujian.

 

     Ditulis ulang dari buku TAMBAKBERAS oleh Gus Heru dan Gus Rofiq, ditulis ulang oleh Muhammad Zafri Nabilur Ra’yi.