Pesan KH Rojih Ubab Maimoen dalam Peringatan Nuzulul Qur’an: Santri Harus Seimbangkan Ngaji dan Ibadah
BAHRULULUM.ID, JOMBANG – Peringatan Nuzulul Qur’an yang digelar oleh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas, Jombang, pada Kamis malam (5/3/2026) menjadi momentum pengingat bagi para santri untuk menyeimbangkan antara ibadah dan menuntut ilmu. Dalam mauidzahnya, ulama asal Sarang, Rembang, KH Rojih Ubab Maimoen menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Jami’ Bahrul ‘Ulum tersebut dihadiri para masyayikh, pengasuh pesantren, serta ratusan santri. Rangkaian acara diawali dengan penampilan hadrah Al-Banjari yang mengiringi pembukaan kegiatan hingga kedatangan para Kiai dan pengasuh pesantren.
Dalam ceramahnya, Kiai Rojih mengingatkan bahwa seorang muslim harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan. Karena itu, kegiatan belajar dan mengaji menjadi hal yang tidak boleh ditinggalkan, khususnya bagi para santri.
“Dadi uwong iku kudu ngaji, mergo kito iki pedomane Qur’an. Rodhītu billāhi rabbā, wa bil Islāmī dīnā, wa bil Qur’āni imāman wa dalīlā.”
(Manusia itu harus belajar dan mengaji, karena pedoman hidup kita adalah Al-Qur’an. Kita ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Al-Qur’an sebagai pemimpin serta petunjuk.)
Menurutnya, tantangan umat Islam pada masa sekarang adalah kecenderungan menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai bacaan ritual. Padahal, pesan-pesan yang terkandung di dalamnya seharusnya menjadi pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan.
“Zaman akhir koyo ngene iki, kadang wong malah manut uwong, dudu manut Qur’an. Al-Qur’an mung digawe wacaan lan dirungokno, nanging ora ditindakake.”
(Di zaman seperti sekarang, kadang orang lebih mengikuti manusia daripada mengikuti Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya dibaca dan didengar, tetapi belum benar-benar diamalkan.)
Untuk menegaskan pentingnya ilmu, ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Kiai Rojih menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara iman dan ilmu. Keduanya harus berjalan beriringan dalam kehidupan seorang santri.
“Dadi wong iku kudu nduwe loro-lorone: iman lan ilmu. Iman kuwi nganggo dzikir lan ibadah, nanging yo kudu sinau. Yen iso nggabung loro-lorone, derajate bakal diangkat dening Gusti Allah.”
(Manusia harus memiliki keduanya, yaitu iman dan ilmu. Iman diwujudkan melalui dzikir dan ibadah, sedangkan ilmu diperoleh dengan belajar. Jika keduanya dimiliki, Allah akan mengangkat derajatnya.)
Memasuki pembahasan mengenai puasa di bulan Ramadan, ia menyinggung hadis yang kerap dipahami secara keliru oleh sebagian orang.
“Ana hadits sing ngendika: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ – turune wong sing poso iku ibadah.”
Menurutnya, hadis tersebut tidak dimaksudkan agar seseorang menghabiskan waktu puasa hanya dengan tidur. Justru puasa menjadi sarana untuk merasakan letih dan lapar agar lebih peka terhadap kondisi orang lain.
“Maknane dudu ngongkon kito turu terus. Tujuan utama poso iku supaya kito ngrasakke lesune awak, ben iso ngerti rasane wong faqir miskin.”
(Maknanya bukan menyuruh kita tidur terus. Tujuan utama puasa adalah agar kita merasakan lemah dan lapar sehingga bisa memahami keadaan orang fakir miskin.)
Ia kemudian mencontohkan tradisi para ulama terdahulu yang memanfaatkan waktu puasa untuk memperbanyak kegiatan menuntut ilmu. Salah satunya adalah ulama besar asal Sarang, Rembang, Maimoen Zubair.
“Kiai-kiai biyen, kalebu Mbah Moen, yen ngaji iku saka isuk nganti sore. Wiwit jam wolu esuk nganti jam lima sore, mung kepotong shalat jamaah.”
Tradisi tersebut, lanjutnya, menjadi teladan bagi para santri agar tetap produktif dalam menuntut ilmu meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.
Meski demikian, ia juga menjelaskan bahwa hadis tentang tidur orang berpuasa tetap memiliki hikmah tertentu, terutama bagi mereka yang merasa sangat lemah saat berpuasa.
“Nanging yen ora kuat, tinimbang mokel, luwih apik turu sek ben kuat nerusno poso. Iki maksude hadits kuwi.”
(Jika benar-benar tidak kuat dan dikhawatirkan membatalkan puasa, maka tidur sejenak lebih baik agar tetap mampu melanjutkan puasa. Inilah maksud dari hadis tersebut.)
Di akhir mauidzahnya, Kiai Rojih berpesan kepada para santri agar tetap menekuni kegiatan mengaji tanpa melupakan kedisiplinan dalam ibadah, seperti menjaga salat berjamaah dan memperbanyak wirid.
Menurutnya, kehidupan santri harus diisi dengan keseimbangan antara menuntut ilmu dan memperkuat ibadah. Dengan menghidupkan majelis ilmu sekaligus menjaga jamaah salat serta wiridan, para santri diharapkan mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin para masyayikh. Para santri mengikuti rangkaian acara dengan khidmat hingga kegiatan berakhir.
Oleh: Abdullah Machbub